Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental

G. Prasetyadi
21 views

academics

(Tulisan pekan ke-7 untuk bahan ajar dan diskusi mata kuliah Jejaring Sosial dan Konten Kreatif di Universitas Gunadarma)

Dengan banyaknya pilihan platform media sosial di era serba digital ini, umat manusia menjadi semakin mudah dalam berkomunikasi, mulai dari berbagi kabar hingga konten multimedia lainnya. Bisa dikatakan, kita tidak dapat hidup tanpanya. Namun apabila tidak disikapi dengan baik, media sosial dapat berdampak negatif bagi kesehatan mental. Tulisan ini akan membahas secara singkat tentang berbagai hasil penelitian yang mengkaji dampak negatif penggunaan media sosial dari berbagai sumber, terbagi ke dalam aspek-aspek masalah mental yang ditimbulkan.

Statistik Pengguna Internet dan Media Sosial

Menurut berbagai sumber yang dikumpulkan DataReportal, pada Januari 2021 terdapat 4,66 milyar pengguna internet di seluruh dunia (59,5% dari total populasi dunia). Sebanyak 4,2 milyar di antaranya merupakan pengguna media sosial.

Situs web Statista menyajikan sekilas statistik tentang aktivitas pengguna internet dan konten yang dihasilkan pengguna (user-generated content), per menit:

Media usage in an internet minute as of August 2021

Penggunaan media internet per menit pada Agustus 2021 (sumber: Statista)

Terlihat ada 5,7 juta pencarian per menit menggunakan mesin pencari Google, serta ~570.000 twit baru per menit di Twitter.

Di Indonesia, jumlah pengguna internet adalah sebanyak 202,6 juta atau 73,7% dari total populasi per Februari 2021. Dari jumlah itu, 170 juta diantaranya adalah pengguna media sosial aktif.

Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Ini adalah inti tulisan ini. Ingat, ini hanya mengemukakan hasil penelitian oleh beberapa organisasi sebagai referensi bagi kita untuk mengawasi dan membatasi penggunaan media sosial serta menyikapinya secara bijak. Karena penelitian memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit, maka banyak dari sumber sudah cukup lawas.

Stres

KBBI: gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan.

Orang-orang menggunakan media sosial untuk melampiaskan banyak hal mulai dari layanan pelanggan hingga pandangan politik, tapi menggulir ke bawah di laman depan Twitter / FB/ IG adalah guliran stres yang tak ada habisnya. Pada tahun 2015, para peneliti di Pew Research Center yang berbasis di Washington DC mencari tahu apakah media sosial menyebabkan lebih banyak stres daripada meredakannya. Dalam survei terhadap 1800 orang, perempuan dilaporkan lebih stres daripada laki-laki terkait aktivitas mereka menjelajah Twitter.

Tetapi menjelajah Twitter juga merupakan mekanisme koping (KBBI: cara yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah dan beradaptasi dengan perubahan): semakin sering kaum wanita menggunakannya, semakin sedikit stres mereka. Anehnya, hal terakhir ini tidak berlaku untuk laki-laki.

Depresi

Dua penelitian yang melibatkan lebih dari 700 orang menemukan bahwa gejala depresi, seperti perasaan diri tidak berharga dan putus asa, ada hubungannya dengan kualitas interaksi daring. Mereka yang memiliki lebih banyak interaksi negatif di media sosial, memiliki tingkat gejala depresi yang lebih tinggi juga.

Sebuah studi pada tahun 2016 yang melibatkan 1700 orang menemukan bahwa mereka yang menghabiskan waktu paling banyak di media sosial, memiliki risiko depresi dan kecemasan tiga kali lipat dibandingkan dengan mereka yang lebih jarang.

Para ilmuwan juga meneliti bagaimana media sosial dapat digunakan untuk mendiagnosis depresi, yang dapat membantu orang menerima pertolongan lebih awal. Peneliti dari Microsoft mensurvei 476 orang dan menganalisis profil Twitter mereka untuk berbagai gejala depresi. Menggunakan ini, mereka mengembangkan pengklasifikasi (classifier) yang dapat memprediksi depresi pada 7 dari 10 kasus.

Peneliti dari Universitas Harvard dan Vermont menganalisis foto Instagram 166 orang untuk membuat program serupa dengan tingkat keberhasilan yang sama.

Gangguan Pola Tidur

Manusia dulu menghabiskan malam dalam gelap, atau paling tidak dalam cahaya lampu redup. Tetapi sekarang kita dikelilingi oleh pencahayaan buatan sepanjang siang dan malam, yang dapat menghambat produksi hormon melatonin, yang mengatur pola tidur alami. Cahaya biru (blue light), yang dipancarkan oleh layar ponsel dan laptop, dikatakan sebagai penyebab terburuk.

Pada tahun 2016, para peneliti dari University of Pittsburgh mensurvei 1700 anak berusia 18 hingga 30 tahun tentang media sosial dan kebiasaan tidur mereka. Mereka menemukan hubungannya dengan masalah gangguan tidur –dan bahwa cahaya biru berperan dalam hal ini-.

Para peneliti mengatakan ini bisa disebabkan oleh gairah fisiologis yang umum dirasakan sebelum tidur, dan layar yang terang dari perangkat dapat menunda ritme sirkadian. Tetapi mereka tidak dapat menyimpulkan apakah media sosial menyebabkan tidur terganggu, atau apakah mereka yang mengalami gangguan tidur memilih menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial.

Kecanduan

Ada argumen dari beberapa peneliti bahwa kecanduan medsos (dalam studi itu maksudnya Twitter) mungkin lebih sulit untuk ditangani daripada rokok dan alkohol.

Media sosial berubah dan berkembang lebih cepat daripada kemampuan para peneliti untuk menelitinya. Berbagai kelompok studi mencoba mempelajari perilaku kompulsif yang terkait dengan penggunaan media sosial. Misalnya, para ilmuwan dari Belanda telah menemukan skala mereka sendiri untuk mengidentifikasi keparahan kecanduan.

Jika kecanduan media sosial memang ada secara keilmuan, tentu saja itu adalah salah satu bentuk kecanduan internet. Pada tahun 2011, Daria Kuss dan Mark Griffiths dari Nottingham Trent University di Inggris telah menganalisis 43 penelitian sebelumnya tentang masalah tersebut, dan menyimpulkan bahwa kecanduan media sosial adalah masalah kesehatan mental yang memerlukan perawatan profesional. Mereka menemukan bahwa penggunaan berlebihan dikaitkan dengan masalah hubungan sosial antar personal, prestasi akademik yang lebih buruk, dan partisipasi yang lebih sedikit dalam komunitas luring. Selain itu, mereka yang lebih rentan terhadap kecanduan media sosial adalah mereka yang juga kecanduan pada alkohol, memiliki kepribadian ekstrovert, dan mereka yang menggunakan media sosial hanya untuk mengimbangi interaksi sosial yang lebih sedikit dalam kehidupan nyata.

Rasa Percaya Diri

(Bahasa Inggris: self-esteem). Situs media sosial membuat lebih dari separuh total responden merasa tidak layak, menurut survei terhadap 1500 orang oleh badan amal disabilitas bernama Scope pada tahun 2014.

Sebuah studi pada tahun 2016 oleh para peneliti di Penn State University menunjukkan bahwa melihat selfie orang lain dapat menurunkan penilaian terhadap diri sendiri, karena pengguna membandingkan diri mereka dengan foto orang yang terlihat sedang bahagia. Penelitian dari University of Strathclyde, Ohio University dan University of Iowa juga menemukan bahwa wanita membandingkan diri mereka secara negatif ketika melihat foto selfie wanita lain.

Tapi bukan hanya soal selfie. Sebuah penelitian terhadap 1000 pengguna Facebook di Swedia menemukan bahwa wanita yang menghabiskan lebih banyak waktu di Facebook merasa kurang bahagia dan percaya diri. Para peneliti menyimpulkan: "Ketika pengguna Facebook membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain yang tampaknya lebih sukses (dalam hal karir) dan bahagia (rumah tangga), mereka cenderung merasa bahwa kehidupan mereka sendiri kurang suksesa atau bahagia."

Tetapi satu penelitian oleh Cornell University yang dipublikasikan pada tahun 2011 menyimpulkan bahwa dengan melihat profil sendiri, dapat mendongkrak ego (dalam penelitian ini yang dimaksud adalah profil FB).

Kesejahteraan (mental)

Dalam sebuah penelitian pada tahun 2013, para peneliti mengirim pesan teks (SMS) kepada 79 peserta, lima kali sehari selama 14 hari, menanyakan bagaimana perasaan mereka dan seberapa banyak mereka menggunakan Facebook sejak teks terakhir. Semakin banyak waktu yang mereka habiskan di FB, semakin buruk perasaan mereka di kemudian hari. (Actually, mungkin mereka merasa lebih terganggu dengan pesan teks sebanyak itu 😑)

Tetapi penelitian lain menemukan, bahwa bagi sebagian orang, media sosial justru dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Peneliti pemasaran Jonah Berger dan Eva Buechel menemukan bahwa orang yang tidak stabil secara emosi lebih cenderung memposting tentang perasaan mereka, yang dapat membantu mereka berupa respon positif dari teman/keluarga dan ini membantu mereka bangkit kembali.

Secara keseluruhan, efek media sosial pada kesejahteraan mental tidak jelas, menurut sebuah makalah yang ditulis pada tahun 2018 oleh para peneliti dari Belanda. Namun, mereka sepakat bahwa secara umum, media sosial menimbulkan dampak yang lebih negatif jika digunakan oleh orang yang sudah terisolasi secara sosial pada awalnya.

Hubungan Antar Personal

Jika Anda pernah berbicara dengan seorang teman yang mengeluarkan ponselnya untuk menelusuri Instagram, Anda mungkin bertanya-tanya apa yang dilakukan media sosial terhadap hubungan.

Kehadiran gawai saja dapat mengganggu interaksi kita, terutama ketika kita tengah membicarakan sesuatu, menurut sebuah penelitian yang hasilnya dirilis pada tahun 2012. Para peneliti yang menulis di Journal of Social and Personal Relationships menugaskan 34 orang asing yang dipasangkan berdua-dua untuk melakukan percakapan selama 10 menit tentang peristiwa menarik yang mereka alami belakangan. Setiap pasangan duduk di bilik pribadi, setengah dari pasangan itu menggenggam ponsel di meja atau tangan mereka.

Mereka yang memiliki ponsel dalam jangkauan menjadi kurang akurat ketika mengingat interaksi mereka setelah itu, ditambah lagi, percakapan mereka dirasa kurang bermakna dibandingkan dengan yang tidak sedang mengakses ponsel.

Hubungan romantis juga turut dibahas di penelitian lain. Para peneliti di University of Guelph di Kanada mensurvei 300 orang berusia 17-24 pada tahun 2009 terkait kecemburuan yang mereka rasakan ketika sedang mengakses Facebook. Pertanyaan yang diajukan antara lain, "apakah Anda merasa resah mengetahui kekasih/pasangan hidup Anda menambahkan teman baru yang tidak Anda kenal, yang berbeda jenis kelamin dengan pasangan Anda itu?" Hasilnya, sebagian besar responden wanita menjawab "ya".

Iri Hati

Dalam sebuah penelitian oleh Humboldt-Universität dan TU Darmstadt pada tahun 2013 yang melibatkan 600 orang dewasa, sepertiga dari mereka berpendapat bahwa media sosial membuat mereka merasakan emosi negatif, terutama frustrasi dan iri hati. Ini bermula dari membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain. Perasaan iri ini menyebabkan “spiral kecemburuan”, dimana orang bereaksi terhadap kecemburuan dengan menambahkan lebih banyak konten ke profil mereka di media sosial, yang juga membuat orang lain cemburu, dan demikian seterusnya.

Namun demikian, ada juga sisi positif dari rasa iri, yaitu membuat orang itu bekerja lebih tekun.

Kesepian

Ini masih terkait dengan iri hati / cemburu.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine mensurvei 7000 anak berusia 19-32 tahun dan menemukan bahwa mereka yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di media sosial lebih mungkin mengalami isolasi sosial, yang mencakup kurangnya rasa memiliki, keterlibatan dengan orang lain, dan hubungan sosial yang bermakna. Studi ini dilakukan pada tahun 2014-2015.

Menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial, menurut para pakar, dapat menggantikan interaksi tatap muka yang merupakan sebuah kebutuhan manusia yang seharusnya tidak tergantikan terkait kodratnya sebagai makhluk sosial, membuat orang merasa dikucilkan.

"Exposure to such highly idealised representations of peers’ lives may elicit feelings of envy and the distorted belief that others lead happier and more successful lives, which may increase perceived social isolation." (Menyaksikan kehidupan teman yang disajikan secara kelewat ideal, terutama teman sebaya, dapat menimbulkan perasaan iri dan keyakinan bahwa orang lain menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan lebih sukses; hal ini dapat memicu perasaan isolasi sosial) - dikutip dari studi tersebut.

Penutup

Semua hal yang dipaparkan di atas adalah apa yang dapat terjadi apabila kita tidak menyikapi media sosial secara bijak. Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan akan tidak baik. Semoga kita dapat memiliki kehidupan digital yang wajar dan sehat, karena bagi orang yang hidup saat ini di zaman ini, teknologi internet -dan tentu saja, media sosial- adalah hal yang tidak mungkin dihindari.

Referensi

Komentar