Blockchain dan Cryptocurrency

G. Prasetyadi
11 views

academics

(Tulisan pekan ke-9 untuk bahan ajar dan diskusi mata kuliah Jejaring Sosial dan Konten Kreatif di Universitas Gunadarma)

Blockchain

Secara sederhana, blockchain itu semacam buku besar atau buku kas yang mencatat transaksi. Satu halaman buku besar itu disebut "block", yang terhubung secara permanen ke halaman sebelumnya atau berikutnya, membentuk satu kesatuan ("chain"). Jadi inilah maksud istilahnya: blockchain, a chain of blocks.

Satu "halaman" alias block hanya dapat berisi sekian transaksi. Apabila jumlah transaksi itu sudah maksimum, block itu harus segera diverifikasi. Proses verifikasi ini disebut "menambang" (atau mining). Penambang yang sukses melakukan verifikasi ini akan diberi imbalan (dalam blockchain Bitcoin, tentu saja imbalannya Bitcoin).

Adapun sebuah transaksi dalam sebuah block yang telah terverifikasi, tidak akan pernah bisa dihapus.

Melakukan proses verifikasi itu tidak mudah dan harus bersaing dengan banyak sekali penambang lainnya. Proses verifikasi ini membutuhkan perangkat keras yang mampu melakukan operasi aritmetika jutaan kali per detik, dan perangkat keras yang ideal untuk melakukan ini adalah prosesor grafis (GPU). GPU ini tertanam dalam kartu grafis yang biasanya digunakan untuk bermain game di komputer atau mengerjakan proyek multimedia. (Selain GPU, ada juga hardware khusus lainnya, misalnya ASIC miner).

asic miner

Sebuah ASIC miner merk WhatsMiner

Ini adalah salah satu alasan mengapa harga kartu grafis atau VGA naik drastis, selain karena isu rantai pasokan akibat pandemi dan kelangkaan bahan baku tertentu. (FYI, pada awalnya proses verifikasi ini membutuhkan CPU, bukan GPU seperti sekarang).

Oiya, proses verifikasi apa yang dimaksud? Di atas saya menyebutkan operasi aritmetika, tepatnya adalah kalkulasi cryptographic hash. Kita akan melihat sekilas nanti. Btw, ini contoh nilai hash verifikasi: 000000000000000000095d2ca92a1ec7ded7e2b3e10ff27de48428117cbe0f4c.

Penambang yang memiliki modal besar umumnya memiliki beberapa mining rig yang berisi banyak sekali perangkat keras penambang, misalnya ASIC atau kartu grafis.

mining rig

Rak-rak berisi ASIC miner di sebuah rig di Mongolia

Sejarah Konsep Blockchain

Kriptografer David Chaum pertama kali mengusulkan protokol mirip blockchain dalam disertasinya tahun 1982 berjudul "Computer Systems Established, Maintained, and Trusted by Mutually Suspicious Groups".

Penelitian lebih lanjut mengenai blockchain yang diamankan secara kriptografis dilakukan pada tahun 1991 oleh Stuart Haber dan W Scott Stornetta. Mereka ingin menerapkan sistem di mana stempel waktu (timestamp) dokumen tidak dapat diubah. Pada tahun 1992, Haber, Stornetta, dan Dave Bayer memasukkan konsep pohon Merkle (Merkle tree) ke dalam desain itu, yang memungkinkan beberapa dokumen dikumpulkan menjadi satu blok.

Merkle tree

Ilustrasi merkle tree dimana Ln adalah blok-blok data dan hash 0-0 adalah hash dari L1

Pada Agustus 2014, ukuran blockchain Bitcoin, yang berisi catatan semua transaksi Bitcoin, mencapai 20 GB. Pada Januari 2017, ukurannya menjadi 100 GB. Adapun pada Oktober 2021, ukurannya adalah sekitar 360 GB.

Cryptocurrency

Salah satu contoh cryptocurrency modern yang terkenal adalah Bitcoin, yang digagas oleh seseorang (atau sekelompok orang?) bernama Satoshi Nakamoto. Gagasan itu berupa makalah atau tepatnya white paper yang kini dapat ditemukan di situs web resmi Bitcoin.

Nakamoto menyempurnakan konsep blockchain modern dengan cara mengimplementasikan Hashcash untuk menciptakan timestamp blok tanpa memerlukan tanda tangan oleh pihak tepercaya.

Hashcash sendiri adalah sistem bukti kerja (proof-of-work) yang digunakan untuk mengurangi spam email dan serangan DoS.

Proof of Work (PoW) adalah bentuk bukti kriptografi di mana satu pihak membuktikan kepada pihak lain bahwa sejumlah upaya komputasi tertentu telah dikerjakan. Belakangan, ada beberapa cryptocurrency yang tidak lagi menggunakan konsep PoW.

bc abstract

Bagian awal dari whitepaper Bitcoin

(Saya pernah menulis tentang dugaan siapa itu Satoshi Nakamoto di sini.)

Di bagian selanjutnya kita akan membahas mengapa cryptocurrency bisa memiliki nilai, penjelasan risiko, apa itu konfirmasi transaksi, dan lain-lain. Terdapat banyak mata uang crypto, misalnya Bitcoin, Ethereum, Litecoin, dan Dogecoin. Tulisan ini hanya membahas blockchain Bitcoin saja.

Tengok penjelajah blockchain untuk Bitcoin (Bitcoin Explorer) di link ini.

Mengapa Bitcoin Memiliki Nilai?

Bitcoin memiliki nilai karena berguna sebagai bentuk uang. Bitcoin memiliki karakteristik uang (durability, portability, fungibility, scarcity, divisibility, and recognizability) secara matematis, bukan dalam sifat fisik (seperti emas dan perak) atau kepercayaan pada otoritas pusat (seperti mata uang fiat).

Btw, berikut adalah beberapa karakteristik uang, dengan contoh Rupiah, yang juga dimiliki kripto semacam Bitcoin:

  1. Daya tahan (durability). Misalnya, selembar uang Rp 100.000 cukup tahan lama dan dapat dengan mudah diganti/ditukarkan jika sudah usang.
  2. Portabilitas. Ini jelas ya. Bisa dipindahkan dengan mudah, misalnya dibawa di dalam dompet.
  3. Divisibilitas, alias bisa dibagi atau dipecah. Misalnya selembar uang 100 ribu bisa ditukar ke dua lembar 50 ribu.
  4. Keseragaman atau kesamaan nilai (fungible). Selembar uang Rp 100 ribu punya nilai yang sama dengan selembar uang 100 ribu lainnya. Lain lagi dengan sapi, misalnya. Sapi punya banyak ras, ukuran, dan bentuk. Setiap sapi memiliki nilai yang berbeda.
  5. Persediaan terbatas (scarcity). Untuk mempertahankan nilainya, uang harus memiliki persediaan yang terbatas dan terkendali. Di Indonesia, peredaran uang dikendalikan oleh Bank Indonesia.
  6. Penerimaan / pengakuan. Rupiah diakui dan memiliki landasan hukum. Kripto seperti Bitcoin diakui oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya, termasuk semua node dalam jaringan blockchain yang mengakui konsensus yang sama.

Karakteristik Kripto Lainnya

Transaksi Bitcoin tidak anonim, melainkan pseudonim karena semua transaksi tercatat di "jurnal" yang dapat diakses oleh siapapun. Alamat bitcoin akan ditampilkan secara publik. Umumnya, tidak akan ada yang tahu siapa pemilik alamat tersebut. Kepemilikan Bitcoin dibuktikan dengan adanya private key yang rahasia. Jika private key hilang, maka Bitcoin yang terkait dengan key itu juga akan hilang dan tidak akan dapat diakses siapapun atau berpindah tangan (kecuali dalam hal ini private key-nya dicuri).

Seperti sudah dijelaskan di bagian karakteristik uang, Bitcoin itu tidak tak terhingga. Kecepatan pembuatan Bitcoin terus menurun dan dapat diprediksi. Jumlah bitcoin baru yang dibuat setiap tahunnya secara otomatis berkurang separuh, hingga mencapai jumlah maksimum yaitu 21 juta bitcoin, suatu saat nanti. Pada titik ini, penambang Bitcoin mungkin hanya akan mendapat insentif dari biaya transaksi.

Transaksi Bitcoin itu instan, namun konfirmasinya butuh waktu beberapa saat. Ketika sebuah transaksi sudah masuk ke dalam "block", maka block-block yang baru akan terkoneksi ke block itu, alias "tertimbun". Satu block = satu konfirmasi (termasuk block itu sendiri). Konfirmasi ini mencegah double spending. Minimal 6 konfirmasi bisa dinyatakan aman. Verifikasi block oleh penambang bisa saja gratis, namun pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Biasanya, program wallet secara otomatis mengatur berapa biaya yang wajar untuk muatan (dalam bytes) transaksi tertentu.

Early adopter (pengguna mula-mula) Bitcoin tentu saja sangat diuntungkan dengan nilai Bitcoin yang naik gila-gilaan, dibandingkan dengan nilai awalnya yang tidak ada satu sen-pun. Mereka dulu telah mengambil risiko berani: berinvestasi pada hal yang bisa saja menjadi tidak bernilai, seperti kripto-kripto awal sebelum Bitcoin.

Penggunaan Energi

Penambangan Blockchain — proses komputasi peer-to-peer dimana transaksi divalidasi dan diverifikasi — membutuhkan sejumlah besar energi. Dalam studi tahun 2021 yang dilakukan di Universitas Cambridge, para peneliti menyatakan bahwa Bitcoin menggunakan lebih banyak energi listrik setiap tahun daripada Argentina (pada 121 TWh) dan Belanda (pada 108,8 TWh). Menurut Digiconomist, satu transaksi bitcoin membutuhkan sekitar 707,6 kilowatt-jam (Kwh) energi listrik, jumlah energi yang dikonsumsi rata-rata rumah tangga di Amerika Serikat dalam 24 hari.

Reaksi di Indonesia Terhadap Keberadaan Bitcoin

Indodax adalah salah satu pasar aset kripto di Indonesia. Menurut Indodax, nilai transaksi aset kripto sepanjang 2021 hingga bulan Mei melonjak sebesar 60%. Jumlah investornya adalah sebanyak 3,1 juta dengan transaksi harian mencapai Rp 500 miliar per hari. Adapun menurut Kemendag RI, jumlah investor mata uang kripto di Indonesia sudah mencapai 6,5 juta.

Nilai transaksi harian uang kripto di Indonesia sudah mencapai sepertiga dari nilai transaksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika nilai transaksi rata-rata harian bursa saham saat ini adalah Rp 9 triliun, artinya nilai transaksi uang kripto sudah bertengger di level Rp 3 triliun.

Bank Indonesia tidak mengakui kripto seperti Bitcoin sebagai alat pembayaran (tapi boleh dianggap sebagai komoditas), setidaknya selama 10 tahun ke depan. BI sendiri akan memanfaatkan blockchain untuk merilis Digital Rupiah, yang bukan merupakan mata uang kripto pada umumnya karena ia dikendalikan sepenuhnya oleh bank sentral.

Dari aspek agama (Islam di Indonesia), MUI telah menetapkan penggunaan mata uang kripto (cryptocurrency) seperti bitcoin dan ethereum haram. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Nia'm Sholeh menjelaskan, alasan kripto haram sebagai mata uang karena mengandung gharar, dharar, dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 serta Peraturan Bank Indonesia nomor 17 tahun 2015. Sebelumnya, NU Jatim juga mengeluarkan fatwa serupa.

transaksi di BC

Sebuah transaksi yang tercatat di blockchain Bitcoin. Karena bersifat pseudonim, kita tidak tahu siapa pelaku transaksi dan untuk apa.

Fatwa ini menimbulkan pro dan kontra. Beberapa pihak menganggap fatwa ini agak rancu dan tidak akan mempengaruhi tren kripto di Indonesia.

Memang, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa masih ada beberapa masalah dalam penggunaan cryptocurrency seperti nilainya yang sangat fluktuatif dan berdampak pada transaksi yang spekulatif yang sebenarnya dilarang dalam Islam.

Seorang pakar blockchain dari Université de Lyon Prancis, Wisnu Uriawan, berpendapat bahwa sebaiknya dilakukan kajian lebih mendalam sebelum menetapkan kripto haram atau tidak; mungkin jika manfaatnya melebihi kekurangannya, maka bisa saja dihalalkan.

Penerapan Blockchain Selain di Kripto

Dunia Hiburan (Gim, Kesenian, dan Lain-lain)

Teknologi blockchain telah digunakan dalam video game untuk monetisasi. Banyak layanan game langsung menawarkan opsi kustomisasi dalam game, seperti skin karakter atau item dalam game lainnya, yang dapat diperoleh dan ditukarkan antar pemain menggunakan mata uang dalam game. Pencatatan transaksi ini menggunakan blockchain. Beberapa game juga mengizinkan perdagangan item virtual menggunakan mata uang dunia nyata, tetapi ini mungkin ilegal di beberapa negara di mana video game dianggap sebagai bentuk perjudian.

Selain itu, masih ada NFT (Non Fungible Token) yang berbasis blockchain. Saya membuat tulisan yang menjelaskan apa itu NFT di sini.

Rantai Pasokan / Logistik

Di bidang pertambangan, The Wall Street Journal melaporkan di tahun 2016 bahwa perusahaan teknologi blockchain, Everledger bermitra dengan layanan pelacakan berbasis blockchain milik IBM untuk melacak asal berlian untuk memastikan bahwa berlian ditambang secara etis.

Di bidang logistik pangan, teknologi Blockchain telah digunakan untuk memungkinkan pengecer atau ritel dan konsumen melacak asal daging dan produk makanan lainnya hingga sampai ke toko dan restoran. Pada tahun 2018, Walmart dan IBM menjalankan uji coba untuk menggunakan sistem yang didukung blockchain untuk pemantauan rantai pasokan selada dan bayam — semua node blockchain dikelola oleh Walmart dan berlokasi di cloud IBM.

Kesehatan

Di bidang kesehatan, The Wall Street Journal melaporkan bahwa perusahaan layanan profesional asal Inggris, Ernst & Young (EY), sedang mengembangkan blockchain untuk membantu pemerintah, maskapai penerbangan, dan pihak berkepentingan lainnya melacak orang-orang yang telah memiliki antibodi (dari vaksin atau karena telah sembuh dari COVID-19) dan bisa kebal terhadap virus SARS-COV-2.